Catatan Komunikasi 2020

Sejak pandemic interaksi kita secara fisik menjadi sangat terbatas dan kemudian berpindah di ruang-ruang “online” memaksa kita memaksimalkan keterampilan berbicara jelas, terstruktur dengan volume cukup, untuk bisa mengatasi tambahan “noise” yakni semua peralatan teknis dan digital. Selain itu, pesan-pesan non verbal menjadi terbatas pada kontak mata dan gerakan tangan saja, meskipun desah napas dan intonasi terdengar lebih menonjol karena langsung masuk di telinga orang lain melalui earphone atau speaker.

Bagi kita yang sudah terbiasa mengasah keterampilan berbicara dan mendengarkan, keterbatasan tersebut tidak terlalu menjadi masalah, karena prinsip kejelasan tetap terjaga. Bagi yang belum terbiasa, bisa jadi harus berupaya ekstra.

Catatan Komunikasi 2020

Pelajaran penting di tahun “Corona” ini adalah koneksi fisik yang terbatas ternyata membuat kita menderita, sekaligus menjadi lebih menghargainya. Bisa mendorong kita untuk merefleksikan bagaimana selama ini intensitas kita berdialog, saling memberikan perhatian, membangun kepercayaan bisa jadi harus berbagi dengan kebiasaan kita berinteraksi dengan HP atau laptop dan menyia-yiakan mereka yang saat itu sedang hadir secara fisik bersama kita.

Pelajaran yang saya dapatkan dari bagaimana komunikasi publik terjadi di Indonesia, juga membuat saya semakin yakin bahwa komunikasi masih sering diaktifkan ketika terjadi krisis, sehingga kita “gelagapan” dan menyebabkan banyak informasi keliru berkeliaran di sekitar kita. Memang tidak mudah bagi pimpinan manapun untuk mengelola krisis dalam sebuah organisasi ketika komunikasi belum membudaya dan menjadi kecakapan prioritas dalam upaya pengembangan diri.

Baca juga : Perusahaan Harus Berubah !

Dari sisi bagaimana informasi dikelola, saya juga belajar bahwa informasi yang sekarang ini semakin banyak dan mudah didapatkan bisa membuat orang keblinger dan mabok, apalagi mereka yang wawasan dan kapasitas berpikirnya masih rendah, sehingga hoax tetap masih berseliweran di media sosial, bahkan di media utama. Saya menganggap kecakapan merangkai kata dan kalimat menjadi provokatif adalah sumbangsih buruk bagi negara.

Pandemi belum terlihat mereda, vaksin sudah tersedia, komunikasi tetap harus jalan, dan semua mimpi serta upaya meraihnya tidak boleh berhenti.

Selamat merayakan Natal dan menyambut tahun 2021!

Salam komunikasi!

Sumber post  : https://www.linkedin.com/pulse/catatan-komunikasi-2020-santi-djiwandono-cpc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *