Komunikasi sebelum dan setelah menikah.

Ketika suatu pasangan belum menikah (pacaran), komunikasi adalah hal yang terlihat sangat mudah. Mereka bisa berjam-jam ngobrol ngalor ngidul tanpa kehabisan bahan. Namun masing-masing masih berjalan sendiri. Tempat bekerja, tempat tinggal, belanja dan lain-lain masih seringkali diputuskan dan dilakukan sendiri.

Kalaupun ada keputusan yang dibuat bersama, masih banyak rasa toleransi karena “lagi sayang-sayangnya”. Misalnya mau makan malam di mana, mau nonton film apa, hingga keputusan besar seperti resepsi pernihakan dan bulan madu. Masing-masing pihak seringkali mengalah kepada pasangan, atau justru ingin memberikan hal terbaik kepada pasangan dengan memilih apa yang pasangan suka, biarpun kita sendiri kurang suka.

Setelah beberapa lama menikah, padatnya aktifitas, apalagi setelah hadirnya buah hati, membuat komunikasi dengan pasangan berkurang. 

Kemudian, masing-masing mulai muncul sifat asli dan prinsip yang dipegang. Maka timbul perbedaan pendapat, dan masing-masing memegang pendapat mereka sendiri. Kadangkala ada satu pihak yang terpaksa mengalah, karena pertimbangan-pertimbangan, atau karena kalah dominan. Kadang ada suami yang otokratis, semua harus sesuai keputusan dia. Tapi ada juga yang sebaliknya, Suami Takut Istri, semua ngikut apa kata istri.  

Tidak jarang terjadi titik  buntu, masing-masing pihak saling tidak mau mengalah, hingga kemudian terjadi diskomunikasi, saling diam dalam ketidak sepakatan. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelangsungan dan keharmonisan pernikahan. Karena itu harus segera dicari solusinya. 

Berikut adalah solusi yang bisa dilakukan:

  1. Banyak mendengar, kurangi bicara. Dalam komunikasi yang baik, kita harus saling mendengarkan. Tidak hanya sekedar mendengar tetapi  fokus dan juga memahami makna dari apa yang dibicarakan. Semakin kita saling mendengarkan, semakin baik pula komunikasi yang terbina.
  2. Jujur dan terbuka. Ceritakan apa saja yang kita alami dan rasakan. Memang tidak mudah, tetapi dengan kita mau jujur, kita bisa lebih saling mengenal dan permbicaraan menjadi lebih berkualitas. 
  3. Minimalisir salah paham. Meskipun sudah lama menikah, kita tidak bisa memprediksi pikiran pasangan secara tepat.  Tanyakan dengan jelas apa yang pasangan inginkan. Atau ketika ada hal yang kita merasa curiga, tanyakan langsung agar pasangan bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
  4. Diskusikan setiap keputusan bersama. Apalagi jika hal tersebut adalah masalah yang cukup besar. Misal ketika akan membeli kendaran baru, atau memilih sekolah sang buah hati. Samakan persepsi, lakukan toleransi bila memang diperlukan. Setelah diputuskan, kita harus sama-sama patuh dan komit dengan keputusan tersebut. 
  5. Perbanyak obrolan santai.  Lakukan oboral santai seputar berita terbaru, film favorit, atau tetangga yang usil, dan hal-hal ringan lain agar pembicaraan terus mengalir. Ingat, semakin intens komunikasi kita maka akan semakin baik untuk keharmonisan rumah tangga.

Komunikasi setelah menikah dibandingkan dengan sebelum meinkah,  cenderung lebih membutuhkan usaha, tetapi justru sangat penting untuk menjaga kelangsungan dan keharmonisan pernikahan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *