Komunikasi Fatik

Kita pasti pernah, suatu saat di jalan bertemu teman atau tetangga dan disapa “baru pulang ya?”, Atau ketika kita mengalami suatu musibah, teman-teman banyak yang memberi semangat “yang sabar ya..” Atau ketika kita memperoleh promosi di kantor, teman-teman memberi ucapan “selamat ya..” dan lain seterusnya.

Dalam bahasa indonesia, hal tersebut di atas dinamakan basa-basi. Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi karya Prof. Dedy Mulyana, dikatakan bahwa basa-basi ini disebut sebagai komunikasi fatik (Phatic Communication).

Prof. Dedy Mulyana menyimpulkan, bahwa komunikasi fatik memenuhi fungsi sosial dari komunikasi. Komunikasi ini dilakukan untuk pemenuhan diri, untuk merasa terhibur, nyaman, dan tentram dengan diri sendiri dan juga orang lain.

Misal kita dalam bertetangga, bertegur sapa atau hanya sekedar mengangguk sambil tersenyum, mungkin secara fungsi informasi tidak ada, tetapi dengan itu kita merasa nyaman dan senang. Atau ketika seorang memberi semangat, walaupun cuman basa-basi, itu bisa membuat yang diberi ataupun memberi semangat merasa senang.

Untuk orang yang suka berfikir taktis, tidak mau ribet, dan tidak suka berbasa-basi, mungkin komunikasi fatik ini tidak begitu ada artinya. Namun, bukankah manusia adalah mahluk sosial yang mencari harmonisasi dengan mahluk lainnya? 

Dalam komunikasi fatik, kata-kata dan tujuan permbicaraan tidak terlalu penting, tetapi yang terpenting adalah menjaga agar hubungan sosial dapat terpelihara. Bahkan ketika kita ingin menyampaikan hal yang punya tujuan pun, misal menjual barang atau meyakinkan seseorang, komunikasi fatik ini harus disertakan. 

Dalam bahasa inggris, istilah lain dari Phatic Communication adalah Phatic Communion, yang artinya kurang lebih “persekutuan karena bahasa”. Dimana dengan komunikasi fatik ini membuat kita merasa menyatu dengan orang-orang di sekitar kita.

Bagaimana jika komunikasi fatik tidak kita terapkan dalam kehidupan sosial kita? Maka kita mungkin akan merasa terasing, kurang kasih sayang dan kehangatan dari lingkungan sekitar kita. Hal ini bisa memicu ketidak seimbangan emosional, ketegangan internal, dan juga frustasi.

Nah mulai sekarang, jangan ragu untuk menyapa, memberi selamat, atau sekedar tersenyum dan mengangguk ketika kita bertemu dengan orang lain, apalagi dengan orang yang kita kenal. Tentunya kita juga melihat waktu dan kondisi ya. 

Pustaka : 

  1. Dedy Mulyana, Pengantar Ilmu Komunikasi, 2000, Bandung, Rosda 
  2. Jumanto, Phatic Communication: How English Native Speakers Create Ties of Union, 2014, American Journal of linguistic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *