Peran Komunikasi Internal di Saat Krisis (belajar dari kasus Bukalapak)

 

Di zaman teknologi seperti sekarang ini, membangun bisnis relatif lebih mudah dan murah dibanding dulu. Apalagi dengan profesi-profesi baru yang sebagian besar didukung oleh teknologi digital semacam; influencer, vlogger, gamer dan youtuber. Membangun bisnis relatif mudah karena tidak perlu modal tunai yang besar, tidak perlu kantor fisik, dan tidak perlu punya rencana bisnis yang kompleks. Yang penting menemukan peluang lalu berupaya mengambil peluang itu dengan berbagai upaya kreatif. Tentu saja begitu perusahaan mulai jalan, tetap diperlukan perawatan agar bisa terus berkembang. Namun di zaman teknologi seperti sekarang resiko terkena krisis bagi perusahaan semacam itu juga relatif lebih besar, karena semuanya menggunakan teknologi dan komunikasi didominasi oleh perilaku menggunakan layar sentuh dan klik tombol, sehingga informasi beterbangan dengan begitu cepat di dunia maya. Kalau salah klik atau salah kirim pesan, dampaknya bisa jauh merusak dan sulit dikendalikan. Kasus yang menimpa BukaLapak adalah kasus menarik untuk diambil pelajarannya, khususnya dari sisi komunikasi internalnya. Komunikasi internal yang sudah dibangun di dalam perusahaan, akan sangat membantu dalam hal pengelolaan informasi, terutama kepada karyawan, di saat krisis.  Komunikator internal dapat melakukan hal-hal berikut :

  1. Berkoordinasi dengan Humas / PR perusahaan untuk mendapatkan semua pesan yang disiapkan bagi pimpinan saat merespon isu kepada publik dan media
  2. Menyampaikan semua tahapan (update) yang dilakukan perusahaan kepada semua karyawan dan semua pihak terkait dengan internal perusahaan, menggunakan media internal yang sudah ada.
  3. Menyediakan saluran informasi khusus bagi karyawan yang ingin mengajukan pertanyaan atau mencari bantuan atas masalah yang bisa terjadi juga terhadap mereka, atas kasus yang sedang terjadi
  4. Dialog dengan “informal leaders” di dalam perusahaan untuk menggalang bantuan mereka menyampaikan semua pesan tersebut ke bawah
  5. Mendokumentasikan seluruh proses komunikasi internal mengenai isu untuk dijadikan pembelajaran dan digunakan sebagai rujukan di masa mendatang

Bagaimanapun juga krisis yang terjadi terhadap perusahaan, tidak saja “diderita” oleh pimpinannya, namun semua karyawan juga turut terkena dampaknya. Komunikasi internal yang efektif dan otentik dapat membantu mereka – minimal- mengetahui apa yang terjadi di dalam dan di luar perusahaan. Sehingga kinerja mereka tidak turut terhenti, namun justru semakin produktif karena paham dan percaya, serta termotivasi untuk turut membantu perusahaan keluar dari krisis dengan cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *