Membangun Komunikasi Internal

 

Perusahaan itu ibarat sebuah kapal, menempuh perjalan menuju satu tujuan. Di dalamnya ada kapten sebagai pemimpin dan anak buah kapal atau kru. Tujuannya hanya satu, dan semua orang di atas kapal harus paham tujuan itu. Tugas setiap orang di dalam kapal memang lain-lain namun semuanya bermuara pada tujuan yang sama. Mulai dari tim di ruang kemudi, tim kebersihan, tim dapur, tim mesin, tim penyelamatan, tim keuangan dan tim lain, semua bekerja bersama demi kebutuhan pencapaian tujuan itu.

Kapal yang menuju satu tujuan berarti harus bergerak mengarungi samudra, dan di tengah samudra, apa saja bisa terjadi; angin, gelombang, kehadiran kapal lain, bahkan kerusakan mesin, kru yang sakit atau makanan yang ternyata kurang. Apakah hal-hal itu dapat menghambat perjalanan kapal? Pastinya! penyampaian informasi yang cepat dan akurat, pemberian umpan balik yang cepat dan mudah dipahami oleh semua, saluran komunikasi yang berfungi dengan baik dan semangat kebersamaan, menjadi sangat krusial. Krisis dapat dengan cepat diatasi dan kapal bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang.

Pemimpin yang baik memerlukan banyak kecakapan, dan salah satu yang penting adalah kecakapan komunikasi dan kecakapan membangun sistem komunikasi internal, agar bermanfaat tidak saja saat terjadi hambatan pencapaian tujuan, namun justru untuk memastikan tujuan tercapai, dalam waktu yang sudah ditentukan.

Komunikasi internal bermanfaat untuk memastikan pertama-tama, apakah semua kru sudah paham tujuan? Kalau belum berarti harus ada upaya menjelaskannya sesuai latar belakang masing-masing kru dan saluran yang sesuai. Jika sudah, maka tujuan itu harus tercermin dalam penyelesaian tugasnya lalu mendasari proses penyelesaian konflik yang bisa muncul antar mereka, saat kapal sudah mulai bergerak.

Artinya, komunikasi internal harus direncanakan dan diukur, dan tidak dijalankan sambil lalu atau hanya “diaktifkan” saat terjadi krisis atau perubahan besar. Komunikasi internal harus berada di posisi strategis yang memiliki perspektif luas sejajar dengan perspektif pimpinan, sehingga bisa memberikan banyak informasi ke atas sekaligus mampu menjadi “ambassador” ke bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *